Sunday, September 28, 2008

Aku menangis untuk adikku enam kali

Aku dilahirkan disebuah dusun yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering dan kuning dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, 3 tahun lebih muda dariku yang mencintaiku lebih dari aku mencintainya...
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri 50 sen dari laci ayah. Ayahku segera menyadarinya. Beliau membuat aku dan adikku berlutut menghadap tembok, dengan sebuah tongkat bamboo ditangannya..."Siapa yang mencuri uang itu..?"Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan "Baiklah...kalau begitu kalian berdua layak dipukul...!"Dia mengangkat tongkat bamboo itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba adikku mencengkram tangannya dan berkata "Ayah...aku yang melakukannya...!"Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku secara bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya, sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan napas. Sesudahnya beliau duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi..."Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang...kamu layak dipukul sampai mati...! Kamu pencuri tidak tahu malu...!!"...
Malam itu, Ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak meneteskan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, tiba-tiba saya mulai menangis meraung-raung, adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan bekata "Kak jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi"
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak mempunyai keberanian untuk mengakku. Bertahun-tahun telah lewat tetapi insiden itu masih terlihat seperti baru kemarin. Aku tidak akan pernah lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu adikku berusia 8 tahun dan aku 11 tahun...
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA dipusat Kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah Universitas Provinsi. Malam itu, ayah berjongkok dihalaman, menghisap rokok tembakaunya bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik" Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas "Apa gunanya...? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus...?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar, ke hadapan ayah dan berkata "Ayah saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi...telah cukup membaca banyak buku..." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya..."Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu lemah...?" Bahkan jika berarti saya mesti mengemis dijalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai...!"
Dan begitu kemudian, ia mengetuk setiap rumah didusun untuk meminjam uang. Aku mengulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang bengkak dan berkata "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya...Karena kalau tidak ia tidak akan bisa meninggalkan jurang kemiskinan ini..." Aku sebaliknya telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke Universitas...
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan beberapa kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap kesamping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku: "Kak, masuk ke Universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang."
Aku memegang kertas itu diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaruku hilang...Tahun itu adikku berumur 17 tahun dan aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya dilokasi kontruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ke-3. Suatu hari, aku sedang belajar dikamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan "Ada seorang penduduk dusun menunggumu diluar sana..." Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku...? aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya "Mengapa kau tidak bilang pada teman sekamarku bahwa kamu adalah Adikku...?" Dia menjawab, tersenyum..."Lihat bagaiman penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika tahu saya adalah adikmu...? Apa mereka tidak akan menertawakanmu" Aku merasa terenyuh dan air mata memenuhi mataku. Aku menyepu semua debu-debu dari adikku dan tersekat-sekat dalam kata-kataku "Aku tidak perduli omongan siapapun...! Kamu adalah adikku apapun juga...! Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu..." Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan terus menjelaskan "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu..." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku kedalam pelukanku dan menangis, menangis dan menangis...Tahun itu adikku berusia 20 tahun dan aku 23 tahun...
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti dan bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang aku menari seperti gadis kecil didepan ibuku "Bu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersikan rumah kita" Tetapi katanya, sambil tersenyum "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya...? Ia terluka waktu memasang kaca jendela baru itu..."
Aku masuk kedalam ruangan kecil adikku, melihat wajahnya yang kurus, 100 jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya "Apakah itu sakit...?" aku menanyakannya..."Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja dilokasi kontruksi, batu-batu berjatuhan ke kakiku setiap waktu bahkan itu tidak menghentikan aku bekerja dan..." ditengah kalimat itu dia terhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu adikku berusia 23 dan aku 26...
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali aku dan suamiku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus melakukan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan "Kak, jagalah mertuamu saja, saya akan menjaga Ayah dan Ibu disini..."
Suamiku menjadi direktur pabrik, kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, ketika adikku memperbaiki sebuah kabel diatas sebuah tangga, ia mendapat sengatan listrik dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu mengapa kamu menolak menjadi manajer...? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius pada wajahnya, ia membela keputusannya "Pikirkan kakak ipar - ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan...?" Mata suamiku dipenuhi air mata dan kemudia keluar kata-kataku yang sepata-patah "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku...!"...."Mengapa membicarakan masa lalu..?" adikku menggenggam tanganku. Tahun itu ia berusia 26 dan aku 29...
Pada saat berusia 30 tahun Adikku menikahi gadis petani dari dusun. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi...?" tanpa berpikir ia menjawab "KAKAK ku..."
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat "Ketika SD ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama 2 jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberkan sati dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapa memegang sumpitnya. Sejak hari itu saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya..."
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu, semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku...Kata-kata begitu susah keluar dari bibirku "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku..." Dan dalam kesempatan yang berbahagia ini, didepan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai....

Friday, September 12, 2008


RockYou FXText

.....Dia lupa betapa berharganya dia.....


Ketika ALLAH SWT menciptakan wanita...DIA lembur pada hari ke-enam...
Malaikat datang dan bertanya..."Mengapa begitu lama Ya ALLAH...?"
ALLAH SWT menjawab:
"Sudahkah engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?"
"Dua tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik, setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan bergungsi baik untuk segala jenis makanan...Mampu menjaga banyak anak saat yang bersamaan...Punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan...dan semua dilakukanny cukup dengan dua tangan ini"...
Malaikat itu takjub...
"Hanya dengan dua tangan?...Impossible...!!!"
Dan itu model standard?!
"Sudahlah Ya ALLAH cukup dulu untuk hari ini, besok kita lanjutkan lagi untuk menyempurnakannya"...
"Oh....Tidak, SAYA akan menyelesaikan ciptaan ini...karena ini adalah ciptaan favorit SAYA"
"Oh....ya...Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja 18 jam sehari"
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan ALLAH SWT itu...
"Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut Ya ALLAH?"
"Yah...SAYA membuatnya lembut...tapi ENGKAU belum bisa bayangkan kekuatan yang SAYA berikan agar merka dapa mengatasi banyak hal yang luar biasa"
"Dia bisa berfikir?"...tanya Malaikat...
"Tidak hanya berfikir, dia mampu bernegosisasi"
Malaikat itu menyentuh dagunya...
"Ya ALLAH, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatan lelah dan rapuh...!? Seolah terlalu banyak beban baginya"
"Itu bukan lelah atau rapuh...Itu air mata"...koreksi ALLAH SWT...
"Untuk apa?"...tanya Malaikat...
ALLAH SWT melanjutkan:
"Air mata adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, cinta, kesepian, penderitaan dan kebanggaan"
"Subhanallah"...kata Malaikat...
"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya, wanita - ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan...!"
Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona laki-laki...Dia dapat mengatasi beban bahkan melebihi laki-laki...
Dia mampu menyimpan kebahagiaan dan pendapatnya sendiri...
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit...
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, bahkan tertawa saat ketakutan...
Dia berkorban demi orang yang dicintainya...
Mampu berdiri melawan ketidakadilan...
Dia tidak menolak apabila melihat yang lebih baik...
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya...Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat...
Cintanya tanpa syarat...
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang...
Dia giarang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa...
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran...
Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian...
Dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup...
Dia tau bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembukan luka...
Hanya ada satu hal yang kurang dari wanita:

.....Dia lupa betapa berharganya dia.....

KISAH POHON, DAUN DAN ANGIN


POHON
Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku berpacaran sebanyak 5 kali...Ada satu wanita yang sangan Aku cintai tapi Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya...Dia Cantik...Huh pokonya Ehmmmm...Dia sangat peduli dengan orang lain...religius...Aku menyukainya...Gayanya yang innocent dan apa adanya...kemandiriannya...kepandaiannya dan kekuatanny...Alasan Aku tidak mengajaknya kencan karena Aku merasa sangat biasa dan tidak serasi untukku...Aku takut jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang...Aku takut kalau gosip2 yang ada akan menyakitinya...Aku merasa dia adalah "SAHABATKU"...Aku akan memilikinya tiada batasnya dan tidak harus memberikan semua hanya untuk dia...Alasan yang terakhir...membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama ini...Dia tau Aku mengejar gadis2 lain dan Aku telah membuatnya menangis selama itu...ketika Aku mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya...Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..."Lanjutkan saja" katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami, matanya bengkak dan merah...Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis...But Aku tertawa, bercanda dengannya seharian di ruang itu...Disudut ruang itu dia menangis, dia tidak tahubahwa Aku kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal...Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana...
Pacaku yang ke-4 tidak menyukainya...Pernah sekali mereka berdua perang dingin, Aku tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin tapi Aku masih tetap bersama pacarku...Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget...Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku...
Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya...Aku tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia...Aku juga sedih...
Ketika Aku putus dengan pacarku yang ke-5 mengajaknya pergi...Setelah kencan satu hari itu, aku mangatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya...Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku...Aku cerita tentang putusnya Aku dengan pacarku...Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang...Aku tau pria itu, dia sering mengejarnya selama ini...Pria yang baik, penuh energi dan menarik...
Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, Aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya...Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan Aku tidak dapat menahannya...Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku...Aku tak bisa bernafas dan ingin berteriak namun apa daya...Air yang mengacuhkan kehadiarannya...Handphoneku bergetar...ternyata ada SMS masuk...SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis...
SMS itu berbunyi...
..."DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal"...

DAUN
Aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa? karena Aku merasa bahwa DAUN untuk meninggalkan Pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan...Selama ini Aku dekat dengan seorang pria...bukan seorang pacar tapi "SAHABAT"...
Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya Aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah Aku pelajari sebelumnya "Cemburu"...Perasaan di hati ini bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon...Hal itu seperti 100 butir lemon busuk...
Mereka hanya bersama selama 2 bulan, ketika mereka putus Aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya...tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi...
Aku menyukainya dan Aku tau bahwa dia juga menyukaiku...tapi mengapa dia tidak mau mengatakanya?...Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah?...Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih...Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...
Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan...Tapi...Mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman?...Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati...Aku tau kesukaannya...Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui...Kau tidak mengharapkan Aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan?...
Diluar itu, Aku mau tetap disampingnya...memberinya perhatian...menemani...dan mencintainya...Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku...Hal itu seperti menunggu telephonenya tiap malam...mengharapkan mengirimiku SMS...Aku tau sesibuk apapun dia, pasti meluangkan waktunya untukku...Karena itu, Aku menungguny...Selama ini cukup berat untuk kulalui dan Aku mau menyerah...Kadang Aku berfikir untuk tetap menunggu...Dilema yang menemaniku selama ini...
Akhir tahun itu, seorang pria mengejarku...setiap hari dia mengejarku tanpa lelah...segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku...Aku berfikir...Apakah aku ingin memberikan ruang kecil dihatiku untuknya?...Dia seperti ANGIN yang hangat dan lembut, mencoba meniup DAUN untuk terbang dari POHON...Akhirnya, Aku sadar bahwa Aku tidak ingin memberikan Angin ini ruang yang kecil dihatiku...Aku tau Angin akan membawa pergi Daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik...Akhirnya Aku meninggalkan Pohon...tapi Pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal...Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku...
"DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal"

ANGIN
Aku menyukai seorang gadis bernama DAUN...karena dia sangat bergantung pada POHON...jadi aku harus menjadi ANGIN yang kuat...Angin akan meniup Daun terbang jauh...Pertama kalinya Aku melihat seseorang memperhtikan kami...ketika itu, dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman2nya memerhatikan Pohon...Ketika Pohon berbicara dengan gadis2, ada cemburu di matanya...Ketika Pohon melihat ke arah Daun, ada senyum di matanya...Memperhatikannya menjadi kebiasaanku...seperti Daun yang suka melihan Pohon...Satu hari saja tak kulihat dia...Aku merasa sangat kehilangan...Disudut ruang itu, kulihat Pohon sedang memperhatikan Daun...Air mengalir di mata Daun ketika Poohon pergi...Esoknya...Aku lihat Daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan Pohon...Aku melangkan dan tersenyum padanya...Kuambil secarik kertas...kutulis dan kuberkan padanya...Dia sangat kaget...Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku...Esokny dia datang menghapiriku dan memberikan kembali kertas itu...Hati Daun sangat kuat dan Angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena Daun tidak mau meninggalkan Pohon Aku melihat kearahny...Kuhampiri dengan kata2 itu...sangat pelan...Dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan telponku...
Aku tau orang yang dia cintai bukan Aku...tapi Aku akan berusah agar suatu hari dia menyukaiku...Selama itu, Aku telah mengucapkan kata Cinta tidak kuarang dari 20 kali kepadanya...Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan...tapi Aku tidak menyerah...Keputusanku bulat...Aku ingin memilikinya dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku...
Aku bertanya "Apa yang kau lakukan?...Kenapa kau tidak pernah membalas?...Mengapa kau selalu membisu?"...Dia berkata "Aku menengadahkan kepalaku"...
"Ah?"...Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar...
"Aku menengadahkan kepalaku"...Dia berteriak...
Kuletakkan telepon...Melompat...berlari seribu langkah kerumahnya...Dia membuka pintu bagiku...Kupeluk erat-erat tubuhnya...
"DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal"


Saturday, August 9, 2008

I'm coming

I'm coming guys...
Me...Encu Setiawan will always present...